HERO

SULIT sungguh saya melukiskan perasaan warga Ibukota pagi ini (28/Jan/’08). Mereka seperti meronta meninggalkan kendaraan dan ruang-ruang kantor berpenyejuk udara untuk sekadar melambaikan tangan melepas orang yang dalam sepuluh tahun terakhir ini menjadi muara dari segala makian.

Pak Harto, Presiden RI ke 2 yang memang disarati begitu banyak kontroversi. Media elektronik ibukota yang semula—setelah reformasi—memanggil mantan Presiden RI ini dengan sebutan nranyak, sekadar Soeharto tanpa Pak atau Bapak ini pun tiba-tiba dan ramai-ramai kembali menyebutkan nama Pak atau Bapak sebelum akhirnya tiba pada nama Soeharto.

Mereka juga ramai-ramai mem-beliau-kan orang kuat di era Orde Baru ini. Entah, apa yang mengaduk mereka. Di layar kaca, sejumlah stasiun Televisi juga mendatangkan orang-orang yang punya kesan baik pada Pak Harto. Mulai dari teman mancing Pak Harto, tukang foto, wartawan istana, hingga tukang gado-gado langganan beliau. Lalu, banyak orang pun mematut-matutkan kondisi semasa Pak Harto dengan apa yang terjadi hari ini, ketika kedelai harganya naik, minyak susah didapat, terigu harganya melonjak, pekerjaan sulit digapai dengan masa Pak Harto ketika harga relaif lebih bisa dijangkau dan ekonomi rumah tangga tidak sebegini kacau.

Skali lagi, sulit sunguh buatku menggambarkan perasaan warga ibukota dan aku kira warga negeri ini juga ketika melalui layar-layar kaca mereka menatap orang tua yang cukup lama sakit di RSPP itu akhirnya harus menghadap Sang Pencipta. Demikian pula di halaman depan rumahnya, di Cendana sore hari (27/Jan/’08). Aku juga tak tahu hasrat besar apa yang tersimpan di benak seorang ibu yang tinggal di Kampung Kebon Kosong RW XIII/III, Kemayoran yang sambil menggendong anaknya yang tak henti menetek berjalan kaki dari rumahnya yang meskipun lokasinya tak jauh dari istana negara, juga tak jauh dari kantor Gubernur DKI Jakarta, namun sudah 20 tahun lebih tidak disentuh pembangunan apapun. Alasan Pemerintah DKI karena lahan tersebut masuk lahan bekas bandara Kemayoran dan berada di bawah Sekretariat Negara sehingga Pemerintah DKI tidak mau menata lingkungan ibu yang satu ini karena dianggap bukan wilayahnya, betapapun kini telah menjadi demikian kumuh, namun tetap saja tak tersentuh geliat Jakarta.Jauh sebelum itu, ketika Pak Harto masih gering di RSPP, aku teringat omongan Fakhri Ali, saat dialog bersama Pak Siswono di MetroTV. Kata Fakhri Ali, ”ada dua hal yang paling fenomenal dari Pak Harto semasa berkuasa, yakni swasembada beras dan didirikannya Bulog.” Aku kira dia betul, meskipun tetap dengan sejumlah catatan, terutama untuk swasembada beras yang dilakukan dengan kelewat memboroskan pestisida kimia yang belakangan menjadi persoalan serius petani kita.

Ah……..aku terantuk diskusi para pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur yang belakangan galau karena diburu polisi lantaran kebiasaan mereka mengoplos beras kini diancam dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, dan sebagian dari mereka pun kini memilih menutup toko-tokonya dan membiarkan truk-truk beserta para sopir dan kuli angkutnya nganggur sehingga pasokan beras di pasar-pasar pinggiran ibukota pun terhambat dan kemudian harga beras pun meronta-ronta.

Ah……..aku ingat Pak Harto dengan senyumnya kala memotong padi untuk kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Anak petani ini memang cukup piawai dengan berbagai produk pertanian, meski bukan Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagaimana Pak SBY.Cerutunya yang bermerek Opus X dan harganya konon mencapai Rp 6 juta/bungkus yang biasa menjadi teman kala mancing di perairan Kepulauan Seribu kini sudah tak lagi nyelip diantara giginya yang tetap terawat hingga akhir hayat.

Jasadnya telah tertutup tanah di Astana Giri Bangun, tak jauh dari kuburan sejumlah orang yang awal tahun ini terjebak longsoran di desa Magel, Karanganyar, Jawa Tengah. Dingin, sepi, tak lagi ada celoteh burung kesayanganmu yang kini tertinggal sendiri di beranda belakang rumahmu di Cendana. Tapi aku tetap tak bisa meraba gejolak perasaan warga negeri ini yang tiba-tiba terseret haru karena kematian Jenderal Besar ini. Aku juga tak bisa meraba ketika anak-anak muda—tak lama setelah arak-arakan jenazah dari Cendana diantar ke bandara Halim Perdana Kusuma untuk kemudian diterbangkan ke bandara Adi Sumarmo, Solo—dimulai dari Tugu Proklamasi, mereka mendaraskan demo agar orang yang baru beberapa jam sebelumnya diharu-birui warga ibukota ini dituntut untuk tetap mempertanggungjawabkan segala kekhilafan dan kekalapannya saat berkuasa.

Aku juga tidak bisa meraba bagaimana perasaan Pak SBY yang memimpin upacara kemiliteran di Astana Giri Bangun dan pada saat yang sama beliau semestinya dijadwalkan untuk membuka forum Bank Dunia tentang inisiatif pengembalian aset-aset negara yang tercuri (stollen assets recovery/STAR iniciative) di Pulau Bali, yang antara lain menempatkan Pak Harto sebagai salah satu sasarannya.

Tapi mungkin, aku bisa mencoba memahami perasaan Sukmawati Soekarno Putri yang melalui layar Lativi menyatakan bahwa dirinya tetap tidak bisa memaafkan Pak Harto, mengingat apa yang—mungkin—pernah dilakukan Pak Harto pada Pak Karno. Aku mungkin juga bisa memahami kenapa BJ. Habibie dan Megawati Soekarno Putri untuk tidak hadir, walau sekadar melayad jasad yang telah membujur kaku, mengingat pengalaman mereka masing-masing.

Sukmawati dan Megawati nampaknya memang memilih jalan berbeda dengan Rakhmawati dan Guruh yang secara terbuka mencoba melunakkan hati dan memberi maaf atas nama kemanusiaan pada Pak Harto. Sementara BJ Habibie yang telah tergopoh-gopoh dari Jerman menuju Jakarta serta tanpa singgah dulu di kediamannya di Kuningan dan langsung menuju RSPP namun ternyata tidak diperkenankan untuk menemui mantan guru politiknya itu maupun putra-putrinya………ah…..aku tak tahu, apa gerangan gejolak yang ada di batinnya.

Tapi aku tercenung dengan obrolan Linda Djalil, mantan wartawan Tempo yang kemudian pindah ke Gatra dan lama menjadi wartawan Istana. Menurut Mba Linda pada obrolan yang aku lihat di layar SCTV itu dia pernah mendapatkan nasi campur semut untuk buka kala puasa, sementara Pak Harto dan para koleganya makan yang enak-enak………oleh para ajudan Pak Harto kala itu, wartawan memang seakan menjadi warga kelas III. Tapi menurut Linda, saya kira itu semua ulah para ajudan saja yang disebabkan oleh karakter Pak Harto yang tidak banyak omong.

Mungkin benar demikian, sedikit omongnya Pak Harto yang memang begitu tertutup menjadikan para bawahannya menerjemahkan dengan cara yang kadang begitu menyebalkan. Dan sayangnya, Pak Harto, begitu juga Pak Karno, dan banyak pemimpin kita dewasa ini tidak punya orang seperti Abu Nawas yang begitu melegenda. Orang ini—Abu Nawas—memang membingungkan banyak orang. Konon, Khalifah Harun Al-Rasyid sendiri tak tahu persis siapa orang ini. Tampangnya jelas rakyat jelata. Tetapi ketangkasan pikirannya luar biasa.

Konon, pernah Sang Khalifah sendiri ragu. Jangan-jangan ia sufi besar yang menyamar. Pesan-pesan yang dikandung di balik gurauannya serta kritik halusnya sangat jelas. Khas suara sufi. Para pembantu dekat Khalifah pun ikut bingung. Melihat sikap urakannya, mereka jengkel. Jelas mereka khawatir ulah Abu Nawas membikin murka sang Khalifah. Tapi, tiap kali mereka melihat Sang Khalifah terkekeh, merasa terhibur benar hatinya, mereka pun ikut senyum. Maklum, ulah bawahan di mana-mana begitu. Ikut marah bila atasan marah, ikut senang bila atasan senang. Mereka seperti tidak punya kepribadian sendiri. Syahdan, siang itu mereka dalam keadaan murung. Soalnya, Sang Khalifah lagi marah-marah. Tiap orang dimarahi. Padahal jelas, mereka merasa tidak berbuat salah. Tak seorang pun berhasil membikin Sang Khalifah tersenyum. Senyum Sang Khalifah adalah senyum jagad. Sebaliknya, kemarahan beliau jelas kemarahan bagi seluruh isi jagad pula. Cuma Abu Nawas yang bisa membikin perubahan. Entah perubahan apa. Pokoknya mereka sendiri yakin, Abu Nawas yang mereka butuhkan. Kalau Abu Nawas berhasil membikin paduka tersenyum, semua akan kena senyum. Tapi kalau Abu Nawas membikin paduka marah, biarlah kemarahan itu dialihkan ke Abu Nawas. Dan semoga mereka tak lagi dimarahi.

Sayembara pun diadakan. Abu Nawas dipanggil. Kalau ia berani memantati Sang Khalifah dan beliau tak marah, maka ia berhak memperoleh hadiah lima ribu real…..”Berani kamu?” tanya wazir (Menteri Keuangan) istana. ”Berani,” sahut Abu Nawas cepat. Ia belum berpikir bagaimana caranya. Tapi lima ribu real, teramat sayang diabaikan. Maka, dalam perjalanan pulang, Abu Nawas menghadap ke paseban dalem. Sang Khalifah masih tampak merengut. Tak seorang pun disapanya. Semua sudah hadir. Sudah lebih sejam suasana kaku berlangsung. Tiba-tiba muncul Abu Nawas. Baginda melihatnya. Biasanya, Abu Nawas langsung mencari tempat di bagian depan baginda. Tapi kali ini, orang cerdas ini malah duduk di belakang. Paling belakang, di tempat yang tak ada karpetnya. “Abu Nawas”, sabda Baginda memecah sunyi. “Mengapa kamu tak seperti biasa, duduk di belakang. Majulah. Bukankah di situ tak ada karpet?” ”Ampun Baginda. Hamba berbuat begini demi menuruti kebiasaan baru hamba,” tutur Abu Nawas. ”Kebiasaan baru apa?” ”Hamba sekarang terbiasa membawa tikar sendiri kemanapun hamba pergi, Juga bila sowan kesini.” ”Tikar?” Sang Khalifah heran. Ia masuk ruangan depan langgang kangkung. Tak secuilpun tikar dibawanya. ”Mana tikar yang kau bawa?” ”Ada Baginda…” ”Perlihatkan padaku?” ”Atas titah Baginda?” “Ya…” “Baginda tak akan marah melihatnya?” “Tidak” Maka, Abu Nawas pun maju. Begitu dekat singgasana Sang Khalifah, Abu Nawas membalikkan badan, membelakangi Baginda. Serentak sesudah itu ia nungging, dan secuil tikar yang dijahit di bagian pantat celananya tampak oleh Sang Khalifah. Beliaupun terkekeh-kekeh. Wajahnya langsung sumringah. Dan jagad pun cerah kembali. Wazir istana pun kalah “judi” dengan Abu Nawas. Tapi, murka Baginda yang lenyap digantikan “wajah” serba berkenan. Semua lega. Tatananpun normal kembali.

Sayangnya, Pak Harto, Pak Karno, dan banyak pemimpin kita tidak punya teman seperti Abu Nawas. Orang yang unik, tapi jelas bukan dukun. Ia menarik karena keunikannya itu bila dihubungkan dengan psikologi masyarakat Baghdad kala itu yang sedang sakit, sehingga ia bisa menjadi hero. Hero bagi jiwa-jiwa yang terlanda rasa trenyuh.

Mungkin, bisa saja Abu Nawas sesungguhnya orang yang neurotik. Tapi, mengapa tidak mungkin masyarakat yang terganggu neurose? Sebab konon, cuma masyarakat yang neurotik yang membutuhkan pahlawan. Dan mungkin, masyarakat Indonesia dewasa ini ya seperti itu. Tiap sebentar kita menciptakan pahlawan dan kemudian memakinya. Pak Karno, Pak Harto disanjung dan dipuji, kemudian dimaki, dan terus dipuji lagi.

Juga begitu kerap ada tokoh konyol yang entah apa alasannya dimusuhi pada suatu waktu, untuk kemudian menjadi hero. Ada hero bidang hak azasi manusia, hero bidang agama, bidang politik, sastra, otonomi daerah, LSM, pers, buruh, wanita, dan entah apa lagi. Orang pun bingung dibuatnya.

Karena itu, kalau boleh usul, mbok hero kita cukup satu saja. Dan itu bukan individu, tapi pemerintah yang kita herokan. Tapi syaratnya, harus lebih adil dan manusiawi dalam tatanan ekonomi, sosial, politik, dan hukum sekarang ini. Sebab, seperti pernah diingatkan Winston Churchill yang pada satu saat pernah mengatakan bahwa, “Siapapun yang membangun saat ini dengan hanya berdasarkan bayangan masa lalu, akan kehilangan seluruh tantangan-tantangan besar di masa depan.” Entahlah.** (Imam Baehaqie Abdullah)

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.