Renungan di ujung Ramadhan

KHUSNUL KHATIMAH
Apabila seseorang di akhir hayatnya mengingat Allah, maka ia mencapai posisi khusnul khatimah (akhir yang baik). Sebaliknya yang melupakan Allah, itulah su’ul khatimah (akhir yang buruk). Oleh karena itu, Rasulullah Saw menyuruh menalqin (mengajari) orang yang mendekati ajal dengan kalimat la ilaha illa Allah. Setiap muslim pasti menginginkan akhir hayatnya husnul khatimah. Tapi tidak seorang pun dapat menjamin dan memastikan. Akhir hayat setiap manusia adalah rahasia Allah.

Dan, tidak jarang terjadi orang yang pada mulanya ingat kepada Allah Swt tiba-tiba menjadi lupa kepada-Nya karena dahsyat dan pedihnya sakaratul maut. Sehingga bahkan, Rasulullah Saw sendiri pun ketika ajal mendekat memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam menghadapi sakaratul maut, “Allahumma hawwin ‘alaina fi sakarat al-maut”.

Kepada ummatnya, Muhammad Rasulullah Saw mengajarkan sebuah doa, “Allahumma inna nas-aluka salamatan fid-din, wa ‘afiatan fil-jasad, wa ziyadatan fil-ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut, hawwin ‘alaina fi sakaratil-maut, wan-najata minan-nar, wal’afwa ‘indal hisab”.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda. Dicuplik dari sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda (diterjemahkan secara bebas kurang lebih):

“Demi Allah yang tiada sesembahan selain Ia, bahwa seseorang dari kalian sungguh telah melakukan amal kebajikan sehingga membawanya sehasta lagi masuk ke sorga, tapi kemudian ia berbuat kejahatan dan menjerumuskannya ke neraka. Dan bahwa seseorang dari kalian sungguh telah melakukan perbuatan jahat sehingga membawanya sehasta lagi masuk ke neraka, tapi keburu ia melakukan amal kebajikan dan membawanya masuk ke sorga”.

ILMU TUA
Kata orang bijak, ”hanya orang tua yang tidak tua yang tidak mengikatkan diri pada ilmu tua”. Adapun kunci Ilmu Tua sebetulnya sangat sederhana, ”memahami dan mengambil hanya yang sejati dan abadi”.

Ada milyaran manusia menghabiskan isi bumi, menjalankan kebudayaan pesta dan peperangan-peperangan tak berkesudahan, menyia-nyiakan usianya berputar-putar dan akhirnya, hanya sebagian sangat kecil saja di antara mereka yang tiba pada Ilmu Tua. Ilmu Tua mentertawakan setiap manusia karena segala yang ia perjuangkan, cita-citakan, harapkan, dambakan, tempuh dan ikhtiarkan sampaipun dengan cara merampok atau mengemis, korupsi maupun ngapusi—sesungguhnya adalah sebuah kenyataan sangat bersahaja yang sudah ada padanya, yang semua orang sudah sejak awal memilikinya, terselip di sudut jiwanya—namun hanya bisa ditemukan oleh mata sejati dan mata abadi.

”Ya dun-ya ghurri ghoiri, laqad thalaqtuka tsalatsatan”, kata si Pintu Ilmu, Ali bin Ali Thalib yang Allah memuliakan wajahnya:

Wahai dunia!
Kamu mendekat-dekat padaku
berusaha keras merayu-rayuku
sudahlah
berhentilah
karena diam-diam
jauh di lubuk hatiku
sudah kutalak-tiga kehebatanmu
Wahai dunia!
Kugenggam engkau di tanganku
kuselipkan di salah satu jari-jariku
Cukuplah itu bagimu
Berhentikan mengharapkan agar aku memasukkanmu ke dalam hatiku
Yang berhak mendiami hatiku adalah kekasih-kekasihku
dan engkau tak punya apapun untuk pantas menjadi kekasihku
Terimalah nasibmu, wahai dunia!
Uruslah jabatan
Karier
dan segala khayalan tentang kemajuan serta pembangunan
Aku mensupportmu dalam posisi itu
tapi hentikanlah mimpi untuk menguasai hidupku
apalagi untuk mendapatkan tempat persemayaman di kandungan jiwa cintaku

DI MANAKAH KINI KITA BERADA?
Manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut makhluk dinamis. Sebagaimana kaum Jin. Berbeda dengan Malaikat dan Iblis yang statis. Manusia dan Jin adalah makhluk kemungkinan. Malaikat dan Iblis adalah makhluk kepastian. Malaikat hanya punya satu kepastian: ya’malu ma yu~marun. Mengerjakan yang diperintahkan.

Manusia dan Jin memperoleh peluang demokrasi, mentakdirkan dirinya sendiri sampai prosentase tertentu.

Manusia ditantang Allah mengembarai langit tujuh, yang melingkar, bukan bersap-sap. Sab’a samawat.

Dari langit pertama, lambang Allah sendiri. Ke langit kedua: manusia sebagai benda. Langit ketiga: manusia sebagai benda yang berketumbuhan. Langit keempat: benda yang berketumbuhan, berdarah daging dan bernafsu, alias hewan. Langit kelima: benda yang berketumbuhan, berdarah daging, bernafsu, namun juga berakal. Kemudian langit keenam: ialah langit kreativitas. Langit ijtihad (eksplorasi pemikiran). Langit jihad (perjuangan fisik). Langit mujahadah (pendakian spiritual). Langit fenomenologi.

Namun, politik dan ekonomi sangat sukses membawa manusia turun derajat ke langit hewan. Para seniman termangu-mangu di persimpangan seribu jalan antara langit keenam dengan langit ke tujuh. Para Auliya Allah melebur ke langit ketujuh. Bersujud di depan gerbang Langit Pertama.

Lalu, dimanakah kini kita berada?
JANJI ALLAH Allohus-Shomad. Kepada-Nyalah hidup kita bergantung. Ya, benar, kita tidak steril dari berbagai persoalan, mulai dari krisis harga-harga dapur yang melonjak, pendapatan yang semakin ngepas, sampai akibat terbengkalainya tanah dan lingkungan sekitar kita. Tetapi ketika pemerintah terus saja kedodoran dan tidak kunjung sanggup mengatasi krisis, kita sesungguhnya tidak pernah kehabisan jalan keluar. Allah sendiri berjanji untuk itu, dan sebaiknya tak usah tak percaya kepada janji Allah, ”wong gratis saja kok”.

Selain itu, janji Allah tidak sama dengan janji partai politik, janji pemerintah atau janji siapapun. Allah menjanjikan empat hal:

Pertama, siapa bertakwa kepada-Nya, siapa yang memenuhi hatinya dengan kepercayaan dan kerinduan kepada-Nya, maka Ia akan senantiasa memberi jalan keluar bagi setiap masalah yang menimpanya.

Janji kedua, Ia senantiasa menjamin rejeki hamba-hamba-Nya yang hatinya penuh oleh-Nya itu untuk memberinya rejeki Min haitsu laayahtasib melalui jalan dan cara yang tak bisa diperhitungkan oleh akal manusia, apalagi oleh managemen negara.

Ketiga, untuk siapa saja yang secara konstan menjaga kemesraan batinnya denganNya, maka Ia akan menjadi akuntan hamba pecinta-Nya itu. Ia berhitung dan memperhitungkan lika-liku rejeki dan kesejahteraannya.

Bahkan pada janji keempat Ia menjadi penyampai problemnya, Ia turut menjadi penolong pengurusan untuk masalah-masalahnya.

CARA KITA BERAGAMA
Suatu ketika Rasulullan Saw mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.

Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif, menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit.

Lalu, bagaimanakah keberagamaan kita?
Aku terkenang tulisan Emha Ainun Nadjib.

Suatu waktu, ia ditodong pertanyaan. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”

“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.

“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.

“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.** (Imam Baehaqie Abdullah)

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.