SULIT sungguh saya melukiskan perasaan warga Ibukota pagi ini (28/Jan/’08). Mereka seperti meronta meninggalkan kendaraan dan ruang-ruang kantor berpenyejuk udara untuk sekadar melambaikan tangan melepas orang yang dalam sepuluh tahun terakhir ini menjadi muara dari segala makian.
Pak Harto, Presiden RI ke 2 yang memang disarati begitu banyak kontroversi. Media elektronik ibukota yang semula—setelah reformasi—memanggil mantan Presiden RI ini dengan sebutan nranyak, sekadar Soeharto tanpa Pak atau Bapak ini pun tiba-tiba dan ramai-ramai kembali menyebutkan nama Pak atau Bapak sebelum akhirnya tiba pada nama Soeharto.
Mereka juga ramai-ramai mem-beliau-kan orang kuat di era Orde Baru ini. Entah, apa yang mengaduk mereka. Read the rest of this entry »